Senin, 01 April 2013

Sampai Kapan Kamu Akan Mengucapkan "Aku Sayang Kamu"?

Pagi itu udara terasa sangat sejuk. Bahkan matahari pagi itu tidak begitu menyengat.
"Pagi yang indah," gumamku. Aku lalu melirik handphoneku yag terletak manis di samping bantalku. Ada sms masuk. Sms singkat berisi ucapan selamat pagi. Seketika senyumku merekah langsung dengan cekatan aku membalas sms itu.
Entah sudah berapa lama aku mengenalnya, lebih tepatnya sih smsan sama dia. Dan semua berjalan dengan indah. Aku merasa sangat dekat dengannya, dekat sekali, bahkan aku tak pernah seperti ini sebelumnya. Dia adalah temanku satu kelas. Namanya Kenny. Anaknya asik, smart, rendah hati walaupun hartanya berlimpah, ramah, dan satu lagi, dengan segala kelebihannya itu, dia tampak tidak memiliki kelebihan. Hebat bukan? Kami masih stambuk muda di kampus dan bagiku itu terlalu muda untukku bisa dengan cepat akrab dengannya, cowok, makhluk Tuhan yang jarang kutemani. Bagaimana tidak, dalam sejarah hidupku aku belum pernah dekat sekali dengan cowok mana pun termasuk abangku. Kembali ke awal, Kenny hari ini mengajakku makan siang setelah selesai kuliah di salah satu restoran cepat saji tempat kami biasa makan, oyah, hobi kami makan lho (hahaha). Tanpa pikir panjang au langsung mengiyakannya.
***
"Hey, yo!" sapaku sambil menepuk bahunya kuat. Sontak Kenny kaget dan entah kenapa dia terlihat gugup.
"Nape lu? Bengong gitu. Ayok makannya! Laper nih," rengekku sambil memulas perutku yang lapar sejak tadi pagi, padahal aku sarapan lho, busett.
"Oh, okey," ucapnya singkat tanpa ekspresi.
"Kenapa sih?" tanyaku heran dengan tingkahnya. Nggak biasanya dia begitu.
"Gak papa kok. Yauda, ayok makan. Aku juga lapar," balasnya sambil berpura-pura ketawa.
"Gak lucu!" ucapku sebal. "Cerita! Ada apa? Aku gak mau makan sama orang yang lagi gak mood makan sama aku."
"Serius, Cila," ucanya meyakinkanku. Namun aku tetap diam di tempat sambil menatap matanya tajam (jurus jitu supaya orang lain ngomong jujur).
"Okey, kalo kamu gak mau makan,"
"Yaudah! Aku pulang duluan!" ucapku ketus lalu melangkah pergi. Belum jauh aku melangkah, Kenny memanggilku.
"La, sorry, ya," ucapnya menyesal sambil tertunduk.
"Kamu kenapa sih? Liat aku!" ucapku sambil mengangkat wajahnya agar menatapku.
"Aku sayang kamu," ujarnya tiba-tiba.
Sontak aku kaget dengan kalimatnya barusan. Aku terdiam sejenak. Lalu tersenyum.
"Iya, Kenny. Aku tau kok kalo kamu sayang sama aku, and so do I," balasku.
"Tapi ini beda, La. Bukan sayang kayak yang kamu maksud. Beda. Lebih dari teman. Aku pengen kamu lebih dari teman. Aku gak pegen kamu terluka. Aku gak pengen kamu sedih. Aku pengen selalu ada di dekat kamu. Lebih dari teman, La. Ini beda," ucap Kenny sambil mencoba menenggelamkan wajahnya, tertunduk.
"Maksud kamu?" tanyaku bingung.
"Jadi pacarku. Aku pengen kamu jadi pacarku, lebih dari teman," pintanya sambil menatap lurus ke wajahku tepat di mataku. Seketika aku bingung tak tahu harus berbicara apa selain,
"Kita makan dulu, yah. Abis itu kita bicara lagi, boleh  kan? Aku laper banget," ujarku memelas. "Aku nggak ke mana-mana kok," sambungku sambil tersenyum. Dalam hati aku udah gak karuan lagi. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang, entah kenapa. 'Apa aku jatuh cinta lagi?' batinku.
***
"Yang tadi itu, ehm, kamu bercanda kan?" ucapku memulai percakapan karena sedari tadi Kenny hanya diam.
"Apa wajahku terlihat bercanda?" tanyanya lagi.
"Enggak. Bukan. Nggak gitu. Aku kaget. Kamu tau aku baru aja ...," aku tak melajutkan lagi karena dia tahu apa yang kumaksud. Baru beberapa bulan lalu aku putus dari pacar pertamaku. Dia meninggalkanku tanpa sebab yang aku tidak tau pasti. Tapi yang pasti dia meninggalkanku. Dan sekarang teman dekatku ini memintaku jadi pacarnya setelah hampir lima bulan kami dekat.
"Iya, aku tau kok," ujar Kenny singkat. Dia masih saja diam menunggu aku bicara. "Kamu marah?" tanyanya hati-hati.
"Kenapa aku harus marah, Ken? Ada-ada aja deh," ujarku sambil tertawa ringan.
"Maaf, ya, aku tiba-tiba ngomong begitu. Anggap aja kamu gak dengar, yah? Aku malu," balasnya sambil tertawa garing.
"Kok gitu? Aku kira kamu serius tadi," jawabku sedikit kecewa.
Lagi-lagi Kenny hanya diam menatap kosong segelas coke yang berada tepat di depannya. Aku pun turut diam. Aku bingung bagimana harus menanggapi temanku yan satu ini. Aku memainkan sedotan yang ada di gelas coke milikku. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat pada mantan pacarku, Joseph. Tapi dengan segera aku membuang jauh-jauh pikiranku padanya dan kembali fokus pada Kenny.
"Pulang, yuk," ajak Kenny sambil tersenyum simpul.
"Tapi aku mau jadi pacarmu, Ken," ucapku pelan sambil menundukkan kepala. Kalimat itu mengalir begitu saja. Aku tidak tau apa aku berpikir terlebih dahulu sebelumnya atau tidak sama sekali.
"Apa?" tanya Ken memastikan apa yang barusan aku ucapkan dengan sedikit mendekatkan telinganya padaku.
"Aku mau jadi pacarmu, lebih dari teman. Bukankah kamu meminta hal itu padaku tadi?"
Kenny tersenyum, manis sekali. Baru kali ini aku melihat dia tersenyum seperti itu. 'Ternyata dia emang manis seperti yang teman-teman lainnya katakan,' batinku. Aku membalasnya dengan tatapan memastikan sambil berharap sesuatu yakan dia katakan atau lakukan, yah, misalnya menggenggam tanganku atau mengucapkan sesuatu yang sudah lama sekali tidak aku dengar secara langsung dari perkataan seorang laki-laki...
"Aku sayang kamu," ucap Kenny pasti dengan tersenyum. Aku benar-benar tidak tau bagaimana harus mengekspesikan wajahku saat itu. Tapi satu yang pasti, aku ingin sekali tertawa di sela senyumku dengan senyum malu-malu.
"Boleh?" tanya Kenny seraya mendekatkan tangannya ingin menggenggam tanganku. Dengan cekatan aku langsung menaruh punggung tanganku di bawah telapak tangannya yang langsung menggenggam tanganku.
"Aku juga sayang sama Kenny," jawabku sambil malu-malu. Mungkin wajahku terlihat seperti tomat muda yang sebentar lagi akan matang.
***
Hai! Namaku Cila, lengkapnya Gracia Lavender. Nama itu berasal dari kisah percintaan papa dan mamaku dulu sebelum mereka menikah. Menurut cerita kedua orangtuaku, dulu mereka bertemu di taman Lavender di Hokkaido. Setelah pertemuan itu, tahun berikutnya mereka kembali bertemu di taman Lavender juga di salah satu kota di Prancis selatan. Dan kenapa namaku Gracia Lavender, karena kedua orangtuaku bertemu berkat bunga Lavender yang merupakan bungan kesukaan ibuku.
Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang sangat digilai semua wanita yang pernah sekolah di sekolah yang sama dengan kakakku. Bagaimana tidak, percampuran darah Jepang dan Inggris dari kedua orang tuaku menjadikannya seorang lelaki yang sangat tampan (aku juga mengaguminya :D). Pieter Levis, kakakku satu-satunya yang sangat menyayangiku. Dia sekarang sedang melanjutkan kuliahnya di salah satu kampus yang cukup terkenal di USA.
Papaku bekerja di perusahaan keluarga yang sudah ada sejak tujuh angkatan di atas ayahku. Sedangkan mamaku berkeja di sebuah art gallery di sebuah kota di luar negeri. Mamaku adalah seorang artistik yang sangat cantik. Memiliki kedua orangtua yang super sibuk tidak menjadikanku kekurangan kasih sayang, karena mereka bersedia kapan saja menemaniku saat aku memintanya, begitu juga dengan kakakku. Bayangkan saja dia menghadiahiku sebuah teropong bintang eksklusif dari USA agar aku bisa melihat apa yang sedang dipelajari oleh kakakku di luar sana.
Aku kuliah di salah satu kampus yang cukup terkenal di negaraku di jurusan yang menurut orang itu, waw, dan tak banyak orang yang meminatinya. Sangat jauh berbeda tentunya dengan kakakku yang kuliah di benua lain. Tapi sama sekali tidak membuatku minder selagi aku masih memiliki keluarga yang selalu sayang padaku.
Malam itu terasa dingin menusuk hidungku. Namun tak kuhiraukan karena aku sedang asik chatting dengan Kenny (maklum pacar baru).
"Cilaaa!!" teriak mamaku dari luar kamar.
"Iya, Maa!" sahutku tak kalah kuat dari suara mamaku. Segera aku pamit pada Kenny lalu menaruh gadget-ku di atas tempat tidurku dan beranjak keluar dari kamar.
"Kamu belum makan kan?" tanya mama dengan tatapan tajam.
"Hehehe. Mama cantik deh," rayuku sambil mencium pipinya lalu segera kabur menuju ruang makan.
"Habis makan jangan lupa minum vitamin," perintah mamaku. Meskipun mamaku cantik, tapi dia cerewet sekali (-_-).
"Mama udah makan?" tanyaku sambil mengambil lauk kesukaanku.
"Belum. Nungguin kamu. Daritadi sore di kamar aja. Ngapain aja kamu?" tanya mamaku ketus.
"Hehehe. Kita makannya di gazebo yuk, ma. Kata kakak malam ini ada hujan asteroid. Cila mau liat. Mau, yah, ma?" ajakku manis sambil menyediakan nasi untuk mamaku.
***
"Kamu kenapa?" selidik mamaku yang mulai menyadari wajahku terlihat berseri sejak keluar dari kamar tadi. Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan mamaku.
"Siapa namanya? Kuliah dan tinggal di mana?" tanya mamaku langsung tanpa perlu mendengar alasan ada apa denganku. Aku langsung memeluk mamaku.
"Namanya Kenny, Ma. Teman sekelas Cila. Kenny tinggal di daerah nggak jauh dari kompleks kita kok, Ma," jawabku sambil menyeringai.
"Kenny anaknya baik kok, Ma. Mama tenang aja," ujarku menykinkan mamaku yang melihatku dengan tatapan kurang suka mendengar aku memiliki pacar lagi. Bagaimana tidak setelah tau bahwa dulu putri kesayangannya pernah menjalin hubungan dengan putra dari teman lamanya yang sangat beliau tidak suka dan kemudian putri kesayangannya itu ditinggalkan begitu saja.
"Hmmm...," jawab mamaku masih belum rela putrinya memiliki pacar baru.
"Mamaaa," rayuku sambil memeluknya lagi.
"Joseph nggak pernah hubungi kamu lagi?" tanya mamaku.
"Eh? Kok nanya gitu, Ma?" tanyaku heran dan dengan refleks aku melepas pelukanku.
"Tidak. Tidak apa-apa. Ya, sudah. Kamu pacarannya yang baik, yah. Kalo ada waktu, ajak Kenny makan di rumah," ucap mamaku lebut sambil mengelus rambutku penur sayang.
"Big thanks, Mommy. Sip deh!" ujarku mantap sambil memeluk mamaku dengan manjanya
***
"Pagi yang cerah," gumamku sambil melihat indahnya cahaya matahari di ufuk timur. Kamarku sengaja didesain sesuai keinginanku di mana ke dua sisi barat dan timur ditutupi kaca tebal dengan tirai panjang motif bunga dengan tujuan agar aku bisa melihat mentari pagi dan senja yang indah.
"Deo gratias," ucapku sambil tersenyum cerah. Aku kemudian beranjak dari tempat tidur kesayanganku menuju kamar mandi bersiap untuk mengawali pagi ini dengan tubuh yang segar dengan harapan semua akan baik-baik saja hari ini.
Setelah selesai mandi, aku kemudian mengenakan pakaianku. Kemudian setelahnya aku mengecek handphone-ku. Ada tiga pesan masuk dari nomor yang sangat familiar bagiku.
Selamat malam, Cila. Apa kabar? (pesan pertama)
Kamu lagi apa? Sibuk gak? (pesan kedua)
'Josep. ada apa,  ya?' batinku heran, namun terbersit sedikitperasaan senang. aku berniat membalas pesan darinya, namun kuurungkan niatku mengingat luka yang digoreskannya padaku. aku langsung menghapus pesan itu kemudian membaca pesan berikutnnya dari kekasihku. Dengan senyum termanis di pagi ini aku membalasnya dengan cekatan dengan ucapan selamat pagi yang tak kalah romantisnya (maklum pacar baru :D)
Beberapa saat kemudian ada pesan baru yang masuk, dari nomor baru. 'Josep lagi,' batinku mulai bertanya-tanya.
Selamat pagi, Cila. Have a nice day, ya :)
Ingin seklai diri ini membalas pesan tersebut. Namun rasa sakit itu selalu merasuk untuk tidak membalasnya.
"Cila!" sapa Papaku dari balik pintu kamarku. aku kemudian membukakan pintu kamarku baginya.
"Selamat pagi, Papa," sapaku sambil memeluknnya.
"Adek kuliah sampai jam berapa?" tanya pria yang sudah mulai berumur namun masih tampan di depanku.
"Cila nggak kuliah, Pa. Tapi ada rapat panitia jam 10 di kampus. Ada apa, Pa?" tanyaku. 
"Kakak kamu pulang dari perantauan. Katanya landing sekita jam 1 siang. Kamu bisa jemput? papa sama Mama ada acara syukuran di rumah teman Papa. Kakak kamu bilang bawaannya banyak. pesanan kamu semua," jelas Pappaku panjang lebar.
"Ih! Pieter! Dia nggak ada bilang mau pulang sama aku. Jahat!" ocehku sambil meraih ponselku mengetik pesan ucapan kekesalanku pada kakak semata wayangku krena tidak megabari aku, adik tungal kesayanganny, kalau dia ingin pulang dari benua lain.
"Kakak kamu bilang mau kasih suprise sama kamu. Tapi yah, berhubung Mama sama Papa nggak bisa, jadi kamu aja deh. nanti pura-pura nggak tau aja, Dek," ujar Papaku sambil tertawa ringan.
"Heemmm.. Baiklah, Papa. Cila juga punya kejutan untuk Kak Pieter" jawabku sambil tersenyum sinis.
"Ok. Nanti bawa mobilnya hati-hati, ya, Dek. Yuk, sarapan dulu. Mama kamu sudah siapin sarapan," ajak ayahku sambil merangkulku menuju ruang makan.
***
 'Okay. This' our first day. Stop being awkward, Cila," batinku. Yup! Ini hari pertama kami memulai hubungan spesial kami. Dan entah kenapa semua mata tertuju padaku. Mungkin gugupku terlalu berlebihan. Tiba-tiba sebuah tangan memgang pundakku dan sontak membuatku kaget.
"Gosh!" pekikku kaget dan menoleh ke arah pemilik tangan itu. Dan benar saja, wajahku terasa panas melihat pemilik tangan itu.
"Good morning babe," ucapnya sambil mengerlingkan matanya. "Wajah kamu merah tuh," ledeknya sambil berjalan di hadapanku. Aku kemudian memegang kedua pipiku. 'Panas,' batinku.
"Enggak kok!" kataku manja kemudian berpura-pura berjalan mendahuluinya menuju rungan rapat. jelas terdengar olehku Kenny tertawa geli melihta tingkahku.
Sehabis rapat, aku kemudian menghampirinya yang juga menghampiriku.
"Makan, yuk!" ajak Kenny. Baru saja ingin membuka mulut untuk menjawab, tiba-tiba temanku Corry merangkulku dari belakang sembari menjawab ajakan Kenny.
"Ayuk!" jawan Corry yang diikuti Louis, Gwen, Lucy. Aku sedikit kesal, karena dalam bayanganku aku ingin makan berdua dengan pacarku. Namun tampaknya sahabatku itu tidak tahu apa yang terjadi di antara Cila dan Kenny. Aku menghela napas panjang.